Berikut adalah kisah saya yg akan dirampok saat pulang kerja
Belakangan tindakan kriminalitas berulang berganti lokasi di Jogja kendati muncul klaim menurunnya angka kriminalitas sejak dibunuhnya preman di LP Cebongan oleh Kopassus. Peristiwa besar terakhir adalah perampokan di Pegadaian Letjen Suprapto dan pembacokan di Kadipaten Kulon, Kraton. Lalu bagaimana rasa aman di kota Istimewa ini? Berikut Laporan Wartawan Harian Jogja Andreas Tri Pamungkas.
Rasa takut belakangan selalu menyelimuti perasaan Muhamad Nurbawa, 21 ketika hendak pulang lewat malam dari kantornya di daerah Jalan Timoho menuju rumah kosnya di Muja-Muju. Apa pasal? Bowo, panggilan akrabnya masih trauma. Sebab ketika usai pulang dari kantornya pada tanggal merah wafatnya Isa Almasih, 29 Maret lalu, ia hampir menjadi korban tindakan tak mengenakan oleh orang tak dikenal.
Saat itu, Bowo keluar dari kantornya sekitar pukul 02.30 WIB. Ia pulang lebih larut karena pagi harinya adalah hari gilirannya untuk libur sehingga setelah usai bekerja, desainer grafis itu memilih menghabiskan waktu di kantor bersama karyawan lainnya. Selama ini ia terbiasa jalan kaki untuk pulang pergi kosnya yang terbilang tak jauh dari lokasi tempat kerjanya.
Baru berjalan beberapa langkah dari kantornya melewati Jalan Muja-Muju Jumat dini hari itu, dari arah sampingnya seorang pengendara dengan mengenakan masker tiba-tiba mendekatinya dan ingin menanyakan sesuatu. Lokasi tepatnya berada di Jalan Muja- Muju atau diseberang persis Warnet Bimo.
Namun ketika orang tak dikenal itu menanyai, Bowo menaruh curiga. Sebab mata orang itu tak fokus melihat ke arahnya. Arah matanya melihat ke samping kiri-kanan. Dan seketika itu seorang lain dengan menggunakan roda dua mendekatinya dari belakang.
Bowo semakin curiga. Dalam hatinya, jika terjadi duel atau pemalakan ia sudah tak berani menantangnya. Karena selain kalah jumlah, orang terakhir yang mendatanginya itu memiliki postur tubuh yang lebih besar ketimbang orang pertama.”Orang itu juga memakai masker,” ujarnya kepada Harian Jogja.
Tak lama, seorang pengendara cewek dengan potongan seksi mengenakan kaos ketat dan celana hot pants tiba- tiba melintas di depannya. Cewek itu kemudian memutar balik dan juga mendekatinya. Bowo dikeroyok dari segala penjuru.
Merasa terancam, instingnya berjalan cepat. Begitu melihat keramaian di warnet, Bowo langsung berusaha meninggalkan lokasi dengan beralasan menghampiri temannya di warnet tersebut. Seketika itu pula orang pertama yang menghampirinya tadi berteriak dengan nada tinggi.
“Mau kemana saya mau tanya,” kata Bowo menirukan.
Begitu Bowo menuju warnet, mereka kemudian juga meninggalkan lokasi menuju arah timur. Lalu, Bowo langsung menghubungi temannya yang masih berada di kantor dan kemudian menghampirinya. Dan tak lama kemudian, gerombolan itu kembali melintas.
Bowo dan rekannya itu lalu bersama- sama berbalik ke kantor. Pensaran, rekan Bowo yang belakangan diketahui bernama Prasetyo lalu mencoba balik keluar menuju Jalan Muja- Muji bermaksud menguji apakah gerombolan itu juga mengenainya.
“Namun ternyata ketika sesampainya di jalan itu mereka sudah mendapatkan mangsa,” kata Bowo.
Bowo menduga cewek seksi itu sengaja digunakan oleh segerombolan orang itu untuk menjerumuskan mangsanya. Di kampung halamannya di daerah Semarang, modus tersebut sering digunakan oleh orang- orang tak bertanggung jawab.
“Sekarang saya nggak berani jalan kaki mending naik motor cepat kalau lari,” tuturnya.
Kapolsek Umbulharjo Kompol Tri Sugiharto mengaku belum pernah mendengar modus kejahatan seperti itu, dengan menggunakan aktor
cewek seksi. Ia mengklaim selama ini tidak pernah ada tindakan kriminalitas yang mencolok di Umbulharjo.
Selama ini menurutnya pengamanan dilakukan dengan melibatkan masyarakat. Penjual- penjual angkringan yang tersebar di daerah Muja- Muju, Tri mengatakan menjadi binaan dari kepolisian. “Dari penjual angkringan kerap mendapatkan info karena banyak pelaku yang mampir di angkringan dan saling membicarakan hasil perolehan perampokan,” tuturnya
Harian Jogja/Andreas Tri Pamungkas